CANDI JAGO

Mari Membaca Sejarah di Candi Jago

MESKIPUN Kerajaan Singhasari bukanlah isapan jempol. Jejak-jejak eksistensi pemerintahan Ken Arok tersebut masih bisa dinikmati hingga saat ini. Tak hanya di Singosari, jejak kerajaan perintis Majapahit itu juga bisa ditemui di Tumpang, dimana terdapat Candi pendarmaan raja keempat Singhasari, yaitu Wisnuwardana, yaitu Candi Jago (Jajagu).

Berdasarkan penuturan arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, keberadaan Candi Jago tertulis dalam kitab kuno Pararaton dan sastra kuno Negarakertagama. Jago atau Jajagu bisa diartikan sebagai tempat suci atau tempat yang tinggi.

Dwi menjelaskan, Candi Jago termasuk candi yang memiliki relief sangat detil. Beragam cerita dicantumkan dalam bentuk gambar di panel-panel yang membangun tubuh candi.

DSC_0241Mpu Prapanca dalam kitab Negarakertagama menyebutkan, tak ada satu celahpun dari Candi Jago yang tidak diisi relief. Bentuknya dua dimensi seperti perwujudan wayang kulit. Model ini merupakan khas Jawa Timur. Sementara, untuk candi di Jawa Tengah, ciri khasnya adalah relief tiga dimensi.

Jika berkunjung ke Candi Jago, maka sempatkanlah untuk membaca relief. Cara membacanya adalah berjalan mengitari candi berlawanan arah jarum jam (prasawiya). Relief bawah dimulai dari arah barat laut yang berisi sembilan fabel.

Masih di bagian bawah sisi timur laut, terdapat penggambaran neraka yang cukup jelas lengkap dengan wot ogal agil yang dalam bahasa agama Islam disebut shiratalmustaqim.

Kisah lain yang bisa dijumpai adalah Ari Dharma ( Anglingdharma), Kunjakarna, hingga Mahabarata.(ara)