COBAN JAHE, SAKSI BISU KEKEJAMAN BELANDA

DSC_0461PADA era agresi militer Belanda II di tahun 1948, tepatnya pada 29 Januari 1948. Sekelompok pejuang kemerdekaan RI yang terdiri dari 40 orang melakukan perjalanan dari Wajak menuju Nongkojajar. Mendekati siang hari, para pejuang tersebut beristirahat di coban tersembunyi di Dusun Begawan Desa Pandansari Lor Kecamatan jabung.
Posisinya yang tersembunyi di cekungan dianggap menjadi tempat strategis untuk melepas lelah sembari menunggu kiriman logistik. Sayangnya, belum sempat bantuan tiba, pasukan Belanda yang bermarkas di Taji tiba-tiba melakukan penyerangan. Belakangan, serangan tersebut dilakukan setelah Belanda mendapatkan informasi dari warga sekitar yang mengatakan terdapat sekelompok pejuang yang akan melintas.
Berdasarkan saksi mata, serangan yang tak terduga tersebut berlangsung selama 5 jam, mulai dari pukul 11.00 hingga 16.00 WIB.
“Belanda berada pada posisi strategis untuk menyerang. Mereka berada di atas, sementara pejuang terjebak di bawah sehingga mudah ditembaki. Apalagi tempatnya tersembunyi dan tidak ada jalan untuk melarikan diri,” cerita Ahmadun Basori, Ketua Ikatan Pemuda Pecinta Alam Begawan Abiyasa (IPPASA).
Basori mengatakan, sejak kejadian tersebut, coban yang menjadi saksi bisu perjuangan pahlawan Indonesia tersebut dinamakan Coban Jahe dan sungai yang mengalir di bawahnya dinamakan Kali (sungai) Jahe. Kata Jahe sendiri berasal dari kata pejahe, yang artinya mati atau meninggal.
“Jadi Jahe itu bukan tanaman jahe, tapi pejahe yang berarti meninggal,” terang dia.
Basori menambahkan, pasca kejadian, aliran Kali Jahe warnanya berubah menjadi merah karena bercampur dengan darah pejuang. Ada warga lokal bernama mbah Dasiah yang melakukan evakuasi pejuang. Kepada Basori, mbah Dasiah menceritakan proses evakuasi baru dilakukan seminggu setelah pertempuran berlangsung.
“Tidak ada yang berani melakukan evakuasi setelah kejadian. Warga baru berani mendatangi lokasi penyerangan seminggu setelah kejadian. Yang membuat trenyuh adalah, di saku mereka ditemukan bahan-bahan makanan untuk survival. Ada babal (nangka muda), jagung mentah, dan pisang muda. ini menegaskan bahwa mereka memang benar-benar pejuang yang sedang survive,” urai Basori panjang lebar.
Ia menambahkan, peristiwa tersebut benar-benar membekas di ingatan, sehingga mbah Dasiah kemudian membuat makam untuk para pejuang yang telah gugur di peristiwa tersebut. Seiring perjalanan waktu, makam tersebut kemudian diperluas hingga menjadi Taman Makam Pahlawan Kali Jahe.

“ Setiap Hari Pahlawan dan malam refleksi kemerdekaan RI, kami berziarah ke makam para pejuang. Ada juga beberapa komunitas yang sengaja datang untuk menggelar upacara penghormatan. Kalau wisatawan, ada yang berhenti untuk sekadar berfoto-foto,” urainya panjang lebar.
Untuk menuju coban tersebut, akses memang cukup sulit. Tidak ada jalan setapak, sehingga pengunjung harus melakukan susur sungai. Akses yang cukup sulit tersebut menyebabkan pergeseran nama. Coban Indrokilo yang lokasinya relatif lebih mudah dijangkau kini lebih dikenal dengan nama Coban Jahe, sedangkan Coban Jahe yang sebenarnya hingga saat ini masih belum tersentuh campur tangan manusia. Keasliannya terjaga diantara rimbunnya pepohonan. Sementara itu, Coban Indrokilo belakangan semakin populer dengan nama Coban Jahe. Lokasinya memang tak terlalu jauh dengan Coban Jahe yang asli. Untuk menuju tempat ini, jarak dari kota hanya berkisar 1 jam. Akses objek wisata kabupaten Malang tersebut cukup mudah, dari arah kota, setelah memasuki gerbang masuk Tumpang, Anda akan menemukan pertigaan pertama dengan penanda berupa penunjuk arah bertuliskan Coban Jahe.
Akses jalan hingga perkampungan terakhir cukup bagus, jalanan beraspal dengan sedikit lubang di beberapa bagian. Petualangan sebenarnya dimulai setelah memasuki pertigaan terakhir sebelum coban. Jalanan yang diapit perkebunan warga tersebut terdiri dari tanah bebatuan dengan banyak lubang cukup menguji kemampuan berkendara. Bagi pengunjung yang membawa mobil, harus lebih hati-hati karena kemungkinan untuk selip cukup besar.
Namun, perjuangan menaklukkan jalanan tersebut akan terbayar dengan pemandangan Coban Indrokilo (selanjutnya disebut Coban Jahe). Air terjun dengan ketinggian sekitar 40 meter yang diwarnai batu cadas yang sebagian tertutup hijaunya vegetasi menjadi pemandangan yang menyejukkan mata.
Wilayah yang masuk kawasan Perhutani ini telah dilengkapi dengan fasilitas yang memudahkan wisatawan, mulai dari area parkir, taman bunga yang dilengkapi gazebo, warung makan, hingga wahana flying fox.(ara)

Iklan